× -bahasa-

×

view_list1.png Artikel     view_masonry.png Galeri     view_list2.png Video    
×
  • url:
×
×
×
4 0 0 0 0 0
4
   ic_mode_light.png

Dalam dunia medis, kasus ini menjadi salah satu yang paling mengejutkan sepanjang sejarah. Seorang pria berusia 44 tahun asal Prancis dilaporkan hidup dengan kondisi yang hampir mustahil dipercaya: 90 persen jaringan otaknya hilang, namun ia tetap mampu menjalani kehidupan normal sebagai seorang pegawai negeri dan ayah dari dua anak. Temuan ini pertama kali dipublikasikan dalam jurnal medis ternama The Lancet oleh tim dokter neurologi yang dipimpin oleh Dr. Lionel Feuillet dari Universitas Aix-Marseille.

Kasus tersebut terungkap ketika pria itu memeriksakan diri ke rumah sakit karena merasa kakinya lemah. Namun hasil pemindaian MRI menunjukkan hal yang luar biasa: sebagian besar ruang di dalam tengkoraknya telah terisi cairan serebrospinal (CSF), dan hanya tersisa lapisan tipis jaringan otak di bagian luar. Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai hydrocephalus, yaitu kondisi di mana cairan otak menumpuk dalam jumlah besar sehingga menekan jaringan otak dan mengikis volumenya.

Yang membuat para ilmuwan dan dokter terheran-heran adalah kenyataan bahwa meski secara fisik otaknya hanya tersisa sekitar 10 persen, pria ini mampu menjalani kehidupan sehari-hari tanpa gangguan berat. Ia bekerja secara normal, berinteraksi sosial, dan bahkan menjalani kehidupan keluarga yang baik. Tes neuropsikologi menunjukkan bahwa pria tersebut memiliki IQ verbal 84 dan IQ performa 70, yang artinya masih dalam kategori cukup untuk menjalani aktivitas rutin sehari-hari.

Temuan ini bukan hanya menantang logika, tetapi juga menggugah kembali pemahaman ilmuwan tentang bagaimana otak manusia berfungsi. Kasus ini membuktikan bahwa otak memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan mengatur ulang fungsinya — sebuah fenomena yang dikenal sebagai neuroplasticity.
Beberapa ahli berpendapat bahwa meski sebagian besar jaringan otak tampak hilang, koneksi dan sistem saraf utama yang mengatur fungsi dasar tubuh kemungkinan tetap bekerja di bagian otak yang tersisa. Dengan kata lain, otak manusia bisa “menyesuaikan diri” dengan keterbatasan ekstrem sekalipun.

Dr. Feuillet dalam laporannya di The Lancet menyatakan, “Ini adalah contoh luar biasa dari fleksibilitas otak manusia. Walau secara anatomi sangat berkurang, otak masih dapat mempertahankan fungsi dasar kehidupan.”
Kasus ini hingga kini masih dipelajari oleh para ahli neurologi di seluruh dunia untuk memahami lebih dalam bagaimana otak mampu bertahan dalam kondisi ekstrem seperti ini.

Temuan ini juga membuka diskusi besar di kalangan ilmuwan tentang seberapa sedikit bagian otak yang benar-benar dibutuhkan agar manusia bisa berfungsi secara sadar dan normal. Banyak pakar menyebutnya sebagai “keajaiban biologis” yang menjadi bukti bahwa otak manusia jauh lebih kompleks dari yang pernah kita pahami.

Sumber:
The Lancet (2007) – Brain of a white-collar worker oleh L. Feuillet et al.
Science and Culture Magazine (2024) – Life Without Most of a Brain: The Case That Shook Neuroscience.

#BeritaViral #FaktaIlmiah #KasusMedisLangka #TheLancet #OtakManusia #Neuroplasticity #FenomenaMisterius #BeritaViralFacebook #IlmuPengetahuan #FaktaDunia

❮ sebelumnya
selanjutnya ❯
infodunia
+

banner_jasaps_250x250.png
<<
login/register to comment
×
  • ic_write_new.png expos
  • ic_share.png bagikan
  • ic_order.png urutan
  • sound.png malsAI
  • view_masonry.png grid
  • ic_mode_light.png light
× bagikan
    ic_posgar2.png x.png tg.png wa.png link.png
  • url:
× urutan
ic_write_new.png ic_share.png ic_order.png sound.png view_grid.png ic_mode_light.png ic_other.png
+
ic_argumen.png

Belum ada argumen, jadilah yang pertama