× -bahasa-

×

view_list1.png Artikel     view_masonry.png Galeri     view_list2.png Video    
×
  • url:
×
×
×
8 0 0 0 0 0
8
   ic_mode_light.png

“Negara Eksportir Kotoran: Ketika India Lebih Jujur pada Tanah daripada Kita Sendiri”

Coba bayangkan ini,
Negara India — negeri yang dulu sering kita pandang sebelah mata karena kemiskinannya — justru sekarang mengimpor kotoran sapi ke luar negeri!
Betul, bukan cuma ekspor beras basmati atau teh Darjeeling, tapi ekspor kotoran sapi murni. Tujuannya? Untuk dikirim ke negara-negara Timur Tengah dan Jepang, yang tanahnya miskin bahan organik.

Negara-negara itu rela membayar mahal hanya untuk mendapatkan sesuatu yang — ironisnya — di negeri kita ini malah dibuang ke sungai.

Ya, di sini kotoran sapi berserakan, kotoran manusia pun numpuk di tangki septik, lalu disedot oleh truk-truk besar bertuliskan “Sedot WC” dan… ke mana larinya?
Sering kali ya ke kali.
Kadang ke lahan kosong.
Jarang sekali yang masuk ke sawah.

Padahal kalau dipikir logis, apa yang keluar dari tubuh makhluk hidup adalah bahan terbaik untuk menghidupkan kembali tanah.
Tanah lapar bukan karena kurang pupuk kimia, tapi karena kehilangan “santapan alami”-nya: bahan organik sejati.

---

Metode Pak Suratin: Bukti Lapangan yang Sederhana Tapi Nyata

Ambil contoh Pak Suratin di timur bandara.
Beliau tidak punya laboratorium, tidak punya alat sensor tanah.
Yang beliau punya hanya keyakinan dan logika alami:
Kalau sampah pasar yang membusuk dilempar ke sawah, sawahnya jadi subur. Titik.

Nah, dari situ muncul ide yang sebenarnya lebih maju dari konsep pertanian modern:
Kalau bahan organik padat saja bisa menyuburkan, apalagi kalau bentuknya sudah cair seperti kotoran sapi atau sedotan WC?

Cairan ini tinggal disebar di sawah, diratakan dengan traktor, lalu dibiarkan dua minggu saja.
Selama itu, mikroba tanah akan berpesta pora, memecah bahan organik, menetralkan gas, dan menciptakan kehidupan baru dalam lumpur sawah.

Setelah dua minggu, sawah siap ditanami padi muda.
Tak perlu pupuk pabrikan. Tak perlu pestisida mahal.
Tanah yang kenyang dengan bahan organik akan menjaga dirinya sendiri.

---

Solusi Sederhana: Dari Limbah Jadi Ladang

Bayangkan kalau setiap truk sedot WC di kota tidak membuang hasil sedotannya ke sungai, tapi menyalurkannya ke sawah dengan pengelolaan sederhana.
Setiap tiga bulan sekali — bersamaan dengan masa tanam padi — para petani menerima suplai bahan organik cair gratis.

Langkahnya gampang:

1. Tumpahkan cairan limbah ke lahan kosong atau sawah calon tanam.

2. Ratakan, biarkan dua minggu.

3. Tambahkan garam grosok atau abu kayu secukupnya untuk menstabilkan pH.

4. Tanam padi seperti biasa.

Hasilnya?
Tanah kembali hidup.
Panen meningkat.
Dan yang paling penting: tidak ada lagi limbah yang mencemari sungai.

---

Kita Kaya, Tapi Tidak Sadar

Negara lain kekurangan bahan organik, sampai rela beli kotoran dari India.
Kita?
Sudah punya sumber melimpah, malah membuangnya.

Mungkin ini bisa jadi bahan renungan:
Tanah kita tidak butuh belas kasihan, tanah kita hanya butuh dikembalikan haknya — diberi makan dari apa yang sudah ia hasilkan.

Jadi kalau suatu hari nanti ada truk sedot WC lewat di depan rumahmu, jangan langsung menutup hidung.
Siapa tahu, di dalam truk itu ada emas hitam cair — yang kalau dialihkan ke sawah, bisa jadi sumber kehidupan bagi jutaan butir padi.

---

❮ sebelumnya
selanjutnya ❯
infodunia
+

banner_jasaps_250x250.png
<<
login/register to comment
×
  • ic_write_new.png expos
  • ic_share.png bagikan
  • ic_order.png urutan
  • sound.png malsAI
  • view_masonry.png grid
  • ic_mode_light.png light
× bagikan
    ic_posgar2.png x.png tg.png wa.png link.png
  • url:
× urutan
ic_write_new.png ic_share.png ic_order.png sound.png view_grid.png ic_mode_light.png ic_other.png
+
ic_argumen.png

Belum ada argumen, jadilah yang pertama