× -language-

×

view_list1.png Article     view_masonry.png Gallery     view_list2.png Videos    
×
  • url:
×
×
    ×
    2 0 0 0 0 0
    2
       ic_mode_dark.png

    PENELITIAN BUKAN LOMBA MENCARI UANG

    Ada fenomena menarik dalam dunia penelitian kita. Begitu seorang peneliti mendapatkan hibah, kabar yang beredar sering kali bukan tentang temuan penelitiannya, melainkan tentang jumlah uang yang diperoleh.

    “Alhamdulillah, mendapatkan hibah Rp500 juta.”

    “Bangga bisa memperoleh pendanaan Rp2 miliar.”

    “Universitas kami berhasil mendapatkan dana penelitian Rp30 miliar.”

    Angka-angka itu diumumkan dengan penuh kebanggaan. Kadang lengkap dengan foto, sertifikat, surat keputusan, atau pose bersama pejabat.

    Saya sampai berpikir, jangan-jangan kita sedang keliru memahami apa yang disebut prestasi penelitian. Peneliti yang mendapatkan dana besar diperlakukan seperti atlet yang baru memenangkan medali emas. Bedanya, atlet membawa pulang medali, sedangkan peneliti membawa pulang anggaran.

    *In my humble opinion*, mendapatkan hibah memang prestasi. Proposal telah melewati proses seleksi dan peneliti dipercaya mengelola dana untuk melakukan pekerjaan akademik. Persoalannya muncul ketika jumlah dana itu kemudian dianggap sebagai ukuran utama kehebatan seorang peneliti.

    Padahal uang penelitian bukan hadiah.

    Uang itu adalah amanah.

    Dana diberikan supaya sesuatu dikerjakan dan menghasilkan sesuatu yang bernilai. Ada pengetahuan yang harus lahir, ada persoalan yang harus dipahami, ada inovasi yang diharapkan muncul, atau ada solusi yang semestinya bisa digunakan. Peneliti bukan mendapatkan uang untuk kemudian berkata, “Lihat, saya dapat Rp3 miliar.”

    Yang lebih menarik justru apa yang terjadi setelah Rp3 miliar itu selesai digunakan.

    Sayangnya, bagian tersebut sering tidak terlalu menarik untuk dipamerkan.

    Foto menerima hibah jauh lebih Instagramable daripada foto sebuah teknologi yang benar-benar dipakai masyarakat. Berita tentang “berhasil mendapatkan pendanaan” jauh lebih mudah dibuat daripada cerita tentang sebuah penelitian yang lima tahun kemudian ternyata mengubah kehidupan orang.

    Kampus pun kadang ikut menikmati logika yang sama. LPPM mengumumkan keberhasilan memperoleh sekian miliar rupiah. Rektor menyebutnya sebagai capaian institusi. Angka pendanaan kemudian masuk ke berbagai laporan kinerja dan menjadi bahan kebanggaan dalam pidato.

    Kita pun bertepuk tangan.

    Maklum, angka miliaran memang memiliki daya magis tersendiri.

    Semakin banyak angka nolnya, semakin terdengar hebat.

    Padahal “berhasil memperoleh dana” dan “berhasil menghasilkan dampak” adalah dua perkara yang berbeda. Sebuah institusi bisa sangat sukses mendapatkan pendanaan sekaligus belum tentu sukses mengubah keadaan melalui penelitian yang didanainya.

    Di sinilah saya kira kita perlu sedikit curiga terhadap budaya akademik yang terlalu mudah terpukau oleh nominal.

    Sebab penelitian akhirnya bisa berubah menjadi semacam kompetisi fundraising. Peneliti berlomba mendapatkan hibah. Fakultas berlomba mendapatkan hibah. Universitas berlomba mendapatkan hibah. LPPM berlomba menunjukkan besarnya dana yang berhasil dihimpun.

    Lalu kita merasa sudah menjadi universitas riset.

    Padahal mungkin baru menjadi universitas yang pandai mendapatkan anggaran penelitian.

    Lebih aneh lagi jika seorang peneliti memamerkan nominal hibah seolah-olah uang tersebut merupakan kekayaan pribadinya. Padahal dana itu melekat pada kegiatan penelitian, memiliki aturan penggunaan, harus dipertanggungjawabkan, dan pada akhirnya berasal dari pihak yang menaruh kepercayaan kepada peneliti.

    Memamerkan jumlah hibah tanpa membicarakan hasil penelitian kira-kira seperti seorang kontraktor membanggakan nilai proyek, tetapi tidak pernah memperlihatkan bangunan yang dibuat.

    Tentu saja kita tetap perlu menghargai kemampuan mendapatkan pendanaan. Peneliti yang mampu memenangkan kompetisi hibah menunjukkan kemampuan menyusun proposal, membangun jejaring, merancang penelitian, dan meyakinkan reviewer. Itu bukan hal kecil.

    Tetapi prestasi tersebut baru gerbang masuk.

    Setelah uang diterima, pekerjaan sebenarnya justru dimulai.

    Karena itu saya juga agak geli ketika mendengar klaim pendanaan penelitian yang nilainya luar biasa besar, bahkan sampai triliunan rupiah. Angka sebesar itu tentu menarik perhatian. Tetapi angka besar seharusnya membuat kita semakin banyak bertanya, bukan semakin cepat bertepuk tangan.

    Kita perlu melihat konteksnya: dana tersebut untuk apa, siapa yang memberikan, berapa lama periodenya, bagaimana pengelolaannya, dan apa yang hendak dihasilkan. Tanpa konteks, angka hanyalah angka. Nolnya boleh panjang, tetapi belum tentu dampaknya panjang.

    Saya kira sudah saatnya budaya penelitian sedikit bergeser.

    Peneliti tidak perlu malu mendapatkan hibah besar. Kampus juga tidak perlu malu mengumumkan keberhasilan memperoleh pendanaan. Yang perlu diubah adalah kebanggaan berhenti pada nominal.

    Sebab pada akhirnya masyarakat tidak terlalu membutuhkan informasi bahwa seorang peneliti mendapatkan Rp2 miliar.

    Masyarakat membutuhkan alasan mengapa Rp2 miliar itu layak diberikan kepadanya.

    Di situlah penelitian diuji.

    Bukan ketika proposal dinyatakan lolos.
    Bukan ketika transfer dana masuk.
    Bukan ketika foto bersama pejabat terpampang.

    Penelitian baru benar-benar menunjukkan nilainya ketika pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti menjadi laporan, ketika inovasi tidak berhenti menjadi prototipe, dan ketika hasil penelitian tidak berakhir sebagai artikel yang dibaca oleh segelintir orang lalu dilupakan.

    Kalau penelitian hanya menghasilkan laporan untuk memenuhi kontrak hibah, mungkin yang berhasil bukan penelitiannya.

    Yang berhasil hanya administrasinya.

    Jadi, barangkali kita perlu berhenti menjadikan besarnya dana sebagai mahkota akademik.

    Penelitian bukan lomba mencari uang.

    Peneliti bukan fundraiser.

    LPPM bukan kasir.

    Dan hibah bukan piala.

    Yang layak dipamerkan pada akhirnya bukan berapa banyak uang yang berhasil masuk ke rekening kegiatan penelitian.

    Yang layak dipamerkan adalah apa yang masih tersisa setelah uang itu habis.

    #uinmalang #universitas #hibah #penelitian #education #highereducation #LPPM #dampak

    ❮ previous
    next ❯
    infoduniaDiskusi
    +

    banner_jasaps_250x250.png
    <<
    login/register to comment
    ×
    • ic_write_new.png expos
    • ic_share.png share
    • ic_order.png order
    • sound.png malsAI
    • view_list2.png listHD
    • ic_mode_dark.png night
    × share
      ic_posgar2.png x.png tg.png wa.png link.png
    • url:
    × order
    ic_write_new.png ic_share.png ic_order.png sound.png view_list2.png ic_mode_dark.png ic_other.png
    +
    ic_argumen.png